Sabtu, 14 November 2009

Mencari Orang Jujur di Indonesia

Sabtu, 14 November 2009 |
Jujur, lima huruf dan satu kata ini begitu mudah untuk di ucapkan. Namun sangat dan teramat sulit untuk dilakukan. Coba kita buktikan, ketika kita berada di lingkungan sekolah atau kampus, kita pasti akan mendapati orang-orang yang tidak jujur. Mulai dari guru/dosen yang datang terlambat untuk mengajar (tidak ada alasan yang bisa diterima). Sampai siswa/mahasiswa yang nyontek dalam mengerjakan ujian, (Bagi pelajar/mahasiswa, maaf ya kalau tersinggung. He...he..he.).

Di lingkungan kerja misalnya, betapa banyak para pekerja yang menggunakan jam kerjanya untuk bermain-main. Apalagi masyarakat dunia sekarang lagi keranjingan situs jejaring sosial yaitu facebook. Bahkan beberapa pemerintahan di Indonesia memblokir situs jejaring facebook tersebut. Sebab para PNS tidak bisa bekerja secara profesional dan optimal dikarenakan sering mengakses facebook. Salah satunya adalah kota Surabaya. Hal itu juga merupakan sebuah kebohongan (tidak jujur).

Para pejabat negara apalagi. Dengan munculnya kasus CICAK Vs BUAYA, kepercayaan publik kepada pejabat bahkan lembaga negara mulai menurun drastis. Terutama kepercayaan publik kepada penegakkan hukum di Indonesia. Bagaimana bisa pejabat negara dapat di kendalikan oleh para korupto? Sungguh suatu hal yang menjijikkan, itulah yang dikatakan oleh Ketua MK, Mahfud MD.

Sungguh, jika diibaratkan sebuah penyakit. Negeri yang kita cintai ini dalam kategori kritis. Namun kita masih tetap optimis, bahwa masih ada harapan untuk membenahi Indonesia yang kita cintai ini.

Saudaraku, hal diatas membuat kita teringat akan nasihat Rosulullah SAW ; Jika kamu melihat pemimpin suatu kaum, maka lihatlah kaumnya. Artinya ketika kita melihat pemimpin kita korup, maka masyarakat kita pasti juga akan korup. Seperti berbagai fenomena masyarakat diatas.

Masih ingatkah kita pada masa pemerintahan Umar Bin Khathab? Ketika Umar Bin Khathab menjadi seorang presiden di zamanya, beliau melakukan kebiasan ronda malam untuk melihat rakyatnya. Tanpa di kawal ajudan atau orang lain. Ketika dalam perjalanan ronda malam, Umar Bin Khathab mendapati sebuah rumah yang masih menyala. Ketika menghampiri rumah tersebut, Umar Bin Khathab mendengar percakapan seorang ibu dan anak pemilik rumah tersebut.

Seorang ibu tersebut adalah penjual susu di pasar. Dalam percakapannya, seorang ibu tersebut mencoba untuk mengajak anak tersebut untuk berlaku tidak jujur. Ibu itu mengatakan; "Nak hari ini kita mendapatkan susu sedikit, bagaimana kalau susu ini kita campur dengan air?" Sang anak menjwab; "Jangan Bu, hal itu dilarang oleh pemerintahan Umar Bin Khathab". Ibu itu berkata lagi; Tenang saja anak ku, presiden Umar Bin Khathab tidak akan tahu, kan tempatnya jauh (padahal saat itu Umar Bin Khathab mendengar perbincangan mereka). Sang anak kembali berkata; "Jika Sang presiden Umar Bin Khathab tidak melihat, maka Tuhannya Umar Bin Khathab yaitu Allah SWT pasti melihat perbuatan kita".

Mendengar perbincangan seorang Ibu dan anak tersebut Umar Bin Khathab menitikkan air mata, karena begitu mengharukan mendengar percakapan tersebut. Terutama pada seorang anak remaja yang memiliki akhlak yang begitu mulia.

Saudaraku, dari kisah diatas kita bisa mengambil beberapa pelajaran, yaitu;
1. Pemimpin yang begitu peduli dengan rakyatnya, bahkan diluar jam kerjanya (malam hari) dia sempatkan ronda untuk rakyatnya.
2. Bahwa Ketika kita memiliki sebuah rakyat yang jujur, pasti pemimpin kita juga akan memiliki sifat jujur tersebut.
3. Budaya saling menasehati, seorang anak yang tidak segan-segan untuk memberikan nasehat kepada ibunya.

Saudaraku, itulah gambaran masyarakat yang kita cita-citakan selama ini. Gambaran tersebut akan dapat kita wujudkan ketika kita bisa berusaha semaksimal mungkin untu berlaku jujur. Yang pelajar/mahasiswa, berusaha untuk jujur dengan tidak mencontek waktu ujian atau tugas-tugas yang lain. Yang Pekerja, bekerja secara profesional dan maksimal. Yang pejabat, lebih mengedepankan kepentingan rakyat daripada kerabat atau teman dekat.

Ketika kita sudah dapat berlaku jujur kepada diri kita, maka tanamkan sifat kejujuran kepada keluarga kita. Terutama anak-anak kita, karena mereka nanti yang akan menjadi generasi bangsa.

Sudahkah Anda berlaku jujur terhadap diri Anda?


Related Posts



3 komentar:

Affordable Web Hosting Information mengatakan...

sulit sekali memang menjadi jujur,apalagi jika sudah pernah sekali bohong, akan ada terus kebohongan2 untuk menutupi kebohongan yg pertama

Kak Roni mengatakan...

kejujuran akan membawa keberkahan, kebohongan akan membawa kemudhoratan

anandyah mengatakan...

SEMANGAT BERKORBAN VS MENGORBANKAN

Poskan Komentar

Tinggalin Jejak Dong


ShoutMix chat widget

Pengunjung Dunia

 

Pengikut